Mengenal 4C (critical thinking, communication, collaboration, and creativity)

Diposting pada

Semua pendidik ingin membantu siswa mereka sukses dalam kehidupan. Apa yang dianggap sebagai pendidikan yang baik 50 tahun yang lalu, bagaimanapun, sudah tidak cukup lagi untuk membantu mereka sukses di perguruan tinggi, karir, dan sebagai warga negara di abad ke-21.

Hidup pada zaman sekarang secara teori lebih sulit dan rumit daripada 50 tahun yang lalu. Pada abad ke-21, setiap orang membutuhkan tingkat informasi dan teknologi yang jauh melampaui pengetahuan dasar yang sudah sudah cukup di masa lalu, yaitu (membaca menulis dan berhitung).

Dengan sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat kita, bersama dengan Konektivitas instan ke masyarakat global, kemampuan membaca siwa bisa dikatakan tidak relevan atau sesuai dengan kurikulum di sekolah kita. Pemanasan global, reformasi imigrasi, penyakit pandemi, dan kehancuran sitem keuangan di berbagai negara hanya beberapa dari isu-isu besar dunia. Harapannya, para siswa ini terpanggil untuk menyelesaikan isu-isu tersebut di masa mendatang.

Selain itu, keterampilan dan tuntutan tenaga kerja telah berubah secara dramatis dalam 20 tahun terakhir. Penurunan cepat dalam “rutinitas” Pekerjaan telah didokumentasikan dengan baik oleh banyak peneliti dan
organisasi. Pada saat bersamaan, terjadi peningkatan pesat pekerjaan yang melibatkan komunikasi, analitik, dan keterampilan berinteraksi. Pasar kerja saat ini membutuhkan kompetensi seperti berpikir kritis dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari banyak bahasa dan latar belakang budaya (Kompetisi Kebudayaan).

Perbedaan kontrak sosial baru: hanya orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk bernegosiasi pada perubahan konstan dan menemukan kembali diri mereka sendiri pada situasi baru yang akan mencapai keberhasilan. Memadukan “3R” dan “4C” akan memastikan bahwa siswa lebih baik dan lebih siap memasuki dunia kerja. Menurut
para manajer; kemampuan membaca, menulis, dan aritmatika tidak mencukupi jika karyawan tidak dapat berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, atau berkomunikasi secara efektif.

  1. Critical Thinking and Problem Solving

    Hubungan antara pemikiran kritis dan pendidikan sangat jelas: seseorang tidak dapat belajar dengan baik tanpa berpikir dengan baik. Pemikiran kritis berkontribusi pada kesuksesan karir, tapi juga untuk kesuksesan di pendidikan tinggi.  Dalam penelitian dilakukan untuk Bill and Melinda Gates Foundation, Profesor Universitas Oregon David T. Conley menemukan bahwa “kebiasaan pikiran” seperti “Analisis, interpretasi, ketepatan dan ketepatan, pemecahan masalah, dan penalaran” bisa lebih atau lebih penting daripada pengetahuan konten yang menentukan keberhasilan pembelajaran di perguruan tinggi. Mengajarkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah secara efektif dalam
    kelas sangat penting bagi siswa. Belajar berpikir kritis membawa siswa untuk mengembangkan keterampilan lain, seperti tingkat konsentrasi yang lebih tinggi, lebih dalam kemampuan analisis, dan pemrosesan pikiran yang lebih baik.

  2. Communication

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *