Tantangan Berat Seorang Guru

Diposting pada

Kalau ada yang mengatakan guru adalah profesi yang tidak ada tantangan, bahkan ada yang bilang, profesi guru itu aneh, kenapa di katakan aneh? Tentu tidak sembarangan berbicara, coba lihat begitu mudahnya seseorang memiliki profesi sebagai guru, yang lebih lucunya belum lulus kuliah saja sudah bisa jadi guru, right? Yang lebih aneh, ada yang sejak masih sekolah sudah menjadi guru di sekolah dasar, coba bandingkan dengan profesi – profesi lain, pengacara, apa boleh menangani sebuah kasus sebelum mereka lulus dari universitas dan mendapatkan izin tentunya, dokter, pernah dengar dokter honorer atau pengcara honorer? Pernah dengar dokter masih di bangku kuliah sudah bekerja di rumah sakit? Hehehe, , , kalem aja Cuma bercanda kok.Yang perlu saya tegaskan itu adalah salah besar. Justru menjadi guru adalah sebuah tantangan berat yang harus dilalui dengan penuh kesabaran dan komitmen yang tinggi. Tapi kenapa ada orang yang mengatakan demikian? Mungkin yang mereka lihat adalah beberapa guru yang tidak serius dengan profesi-nya, yang hanya mementingkan diri dan lalai dengan anak didik. Ada ya guru yang seperti itu? Saya kira tidak perlu saya katakan di sini dan bukan tugas saya pula mengurusi hal demikian, tapi yang perlu saya tekankan masih banyak guru-guru kita yang benar-benar peduli dengan kemajuan anak didik dan dirinya sendiri.

Terus apa saja tantangan berat seorang guru?

Ada beberapa hal yang menurut saya ini adalah tantangan berat seorang guru.

Tantangan Kompetensi

Menjadi seorang guru tidak hanya sekedar lulusan sarjana pendidikan atau magister pendidikan, tapi lebih dari itu ada kompetensi-kompetensi lain yang juga harus di penuhi. Ada empat kompetensi yang harus dikembangkan yaitu kompetensi profesional, paedagogik, individual dan sosial. Menjalankan empat hal tersebut bukan pekerjaan mudah. Kalau hal ini memang benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Jadi jangan pernah berpikir menjadi guru sesuatu yang tidak menantang.

Tapi yang membuat boborok nya wajah guru ada saja kejadian yang mencoreng nama baik pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Tantangan Perubahan Zaman

Kalau zaman dulu, guru menjelaskan dengan papan tulis hitam dan kapur, sekarang sudah menggunakan LCD proyektor dan laptop. Meskipun belum sepenuhnya guru mampu menggunakan laptop dan Proyektor sebagai media belajar mengajarnya, perlu saya share, masih banyak lho guru – guru yang mohon maaf ( Gaptek ) pegang mousepun gemetar, untuk sekedar menghidupkan laptoppun tidak tau, okelah, mungkin karena perbedaan zaman guru masa lalu dan guru masa kini, lantas apakah guru masa kini lebih baik ? hmmmm, silahkan kroscek sendiri. Yang pasti media belajar semacam proyektor dan laptop sudah dimiliki oleh rata – rata sekolah sekarang ini, tapi tidak tau bisa atau tidak memanfaatkannya sebagai media belajar, silahkan di cek sendiri.

Kalau dulu informasi diperoleh dari buku, sekarang informasi bisa diakses lebih luas, melalui media internet. Dulu media pembelajaran yang digunakan cukup sederhana, sekarang sudah cukup canggih. Dulu guru tidak bisa komputer tidak masalah, sekarang rasanya setiap guru wajib bisa.

Beberapa hal diatas adalah perubahan yang kaitannya dengan belajar di sekolah. Belum perubahan yang sifatnya lain seperti gaya hidup siswa, kebutuhan masyarakat, dan masih lagi yang lain. Apakah menurut Anda itu bukan tantangan? Kalau menurut saya itu tantangan yang berat buat guru. Karena guru dipacu untuk bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman untuk hasil belajar yang terbaik.

 Generasi Yang Bobrok

Coba Anda perhatikan beberapa kejadian akhir-akhir ini di mana banyak kasus-kasus remaja sekolah menguak. Dari tawuran, miras, narkoba, seks bebas dan lain sebagainya. Apakah itu bukan tantangan? Itu adalah tantangan, karena selain orang tua, guru-guru di sekolah sering kali dituding sebagai orang-orang yang tidak becus mengurus  mendidik anak kalau anak-anak didik-nya membuat onar atau bikin masalah. Seakan-akan sebagian masyarakat begitu percaya bahwa perilaku buruk anak-anak zaman sekarang diakibatkan karena tidak biasanya guru dalam mendidik.  Ini tantangan berat. Menghadapi berbagai persoalan anak-anak didik bukan pekerjaan mudah.

Untuk itu Spiritual Quetiont merupakan kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang guru guna menjadi suri tauladan yang baik bagi para peserta didiknya. Guru merupakan panutan bagi peserta didiknya dari ujung kaki hingga ujung kepala, entah cara berpakain, cara berbicara, untuk itu akhlakul karimah yang baik yang harus dimiliki seorang guru wajib hukumnya, santai saja tulisan ini sekedar bernasihat kepada diri sendiri agar berhati – hati bertindak.

 Harapan Besar Masyarakat

Ketika seorang memutuskan menjadi seorang guru, maka sejak saat itu ia telah berkomitmen untuk memikul tanggung jawab kedua dalam mendidik para generasi muda. Mereka meluangkan hampir sebagian besar hidupnya untuk belajar dan mengajar supaya anak didik mereka sukses dalam belajar dan sukses dalam hidup. Bahkan masyarakat percaya bahwa guru-guru di sekolah akan mampu membuat anak-anak mereka menjadi orang sukses. kalau misalnya gagal mereka menghujat kalau gurunya tidak becus mendidik. Apakah hal yang seperti ini mudah? Tidak! Ini sangat sulit buat guru. Guru juga manusia, ia sama dengan orang-orang kebanyakan yang punya masalah, punya kebutuhan. Tapi di lain pihak ia harus menjalankan tugasnya yang menurut saya tugas yang mereka pikul sangat berat.

Keempat hal diatas adalah beberapa tantangan yang menurut saya berat, tentunya masih banyak lagi tantangan-tantangan lain yang tidak saya tuliskan dalam artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *